TEKNOLOGI PENGAWETAN DAN PENGOLAHAN SUSU
Pada mulanya manusia meminum susu segar yang mereka peroleh dari binatang ternak tanpa proses lebih lanjut. Ada berbagai mancam ternak yang dapat diperah air susunya, tetapi yang paling populer adalah sapi.
Lambat laun manusia mulai mengenal berbagai macam cara untuk mengolah dan mengawetkan susu. Kontak susu dengan enzim rennet yang terdapat dalam labung anak sapi ternyata dapat mengubah menjadi dadih yaitu cikal bakal keju. Lalu ada pula kontak susu dengan berbagai bakteri ‘baik’ seperti Lactobacillus bulgaricus dan teman-temannya sesama bifidobacterium yang membuat susu menjadi lebih mudah dicerna dalam bentuk yoghurt, kefir, dll.
Di sisi lain, manusia juga menginginkan susu dapat disimpan lebih lama dan didistribusikan ke tempat yang lebih jauh.
Susu Mentah
Dalam keadaan segar, susu dapat bertahan pada suhu ruang tanpa mengalami kerusakan selama beberapa jam saja. Oleh karena itu susu didinginkan pada suhu 0ºC-4ºC untuk dapat bertahan selama 48 jam.
Susu Pasteurisasi
Pada tanggal 20 April 1862, Louis Pasteur menemukan cara untuk membunuh bakteri patogen yang kemudian dikenal dengan pasteurisasi. Pasteurisasi pada susu dilakukan dengan memanaskannya pada suhu 71,5-74ºC selama 15 detik. Dengan cara ini, susu dapat disimpan selama 14 hari dalam suhu 5-7ºC.
Pasteurisasi kemudian berkembang menjadi teknologi HTST (High Temperature Short Time) metode kontinyu yaitu memanaskan susu dengan mengalirkannya melalui plat-plat pemanas kemudian langsung dikemas. Susu pasteurisasi dapat ditemukan di toko swalayan dalam kemasan karton di lemari-lemari pendingin.
Susu Sterilisasi
Susu dipanaskan dalam suhu 120ºC selama 15 menit. Biasanya dikemas dalam kaleng. Umur simpannya dalam kemasan yang belum dibuka dapat mencapai 6 bulan dalam suhu ruang. Susu ini telah diformulasi sedemikian rupa sehingga mudah dicerna dan sangat cocok untuk penderita sakit dan anak-anak yang kekurangan gizi.
Susu Kental Manis
Tujuan pembuatan SKM adalah untuk memperpanjang umur simpan pada suhu ruang. Sebaran SKM terutama diwilayah-wilayah yang masyarakatnya tidak memiliki pendingin. Pembuatan SKM menggunakan salah satu metoda pengawetan pangan sederhana, yaitu penambahan sejumlah gula ke dalam susu yang telah dikurangi kadar airnya sampai sekitar 40%. Sebagaimana diketahui, gula dalam jumlah tertentu merupakan penghambat tumbuhnya bakteri patogen.
Susu jenis ini dapat bertahan dalam suhu ruang selama 2 tahun sebelum kemasan dibuka. Jika kemasan telah dibuka, maka umur simpannya hanya menjadi sekitar 2 bulan
Susu Bubuk
Pembuatan susu bubuk ditemukan pertama kali oleh Osip Krischevsky pada tahun 1802. Susu bubuk dibuat dengan cara memanaskan susu dalam suhu 80 ºC selama 30 detik. Kemudian dilanjutkan dengan proses evaporasi sehingga kadar airnya menjadi 50%. Pengeringan lanjutan dilakukan untuk menjadikannya bubuk kering. Pengeringan tahap ini umumnya dilakukan dengan alat yang bernama “spray drier” atau “roller drier” pada suhu 180 ºC selam 2 jam (untuk kapasitas 2 ton). Terdapat pula cara lain yaitu dengan freeze drier yang bertujuan mengurangi penurunan kualitas gizi susu, tetapi cara ini blum populer. Susu bubuk yang telah dikemas dalam kemasan aluminimum foil dan kotak karton dapat awet selama 2 tahun sebelum dibuka dalam suhu ruang.
Tujuan pembuatan susu bubuk adalah untuk proses baking (pembuatan kue dan rerotian) di mana penambahan bahan cair akan mempengaruhi hasil akhirnya. Selain itu susu bubuk juga umum digunakan oleh PBB untuk mengirimkan bantuan pangan ke daerah bencana/perang/kelaparan, disimpan dalam bunker-bunker selama perang dingin, serta distribusi ke daerah-daerah yang tidak mempunyai akses listrik sehingga tidak ada lemari pendingin.
Susu UHT
Teknologi UHT (Ultra High Temperature) merupakan teknologi yang menggunakan suhu sangat tinggi dan waktu yang singkat yaitu 135-145 ºC selama 2-5 detik. Pemanasan dilakukan dengan cara mengalirkan cairan susu dalam pipa bersuhu sangat tinggi dan langsung mengemasnya secara aseptic serta segera mendinginkannya ke suhu ruang. Tujuannya adalah untuk mematikan bakteri tanpa merusak zat gizi yang terdapat di dalam susu. Teknologi pengemasan aseptic ditemukan pada tahun 1989, yaitu kemasan berlapis (enam lapis) untuk melindungi susu dari pengaruh udara, cahaya, kelembapan, aroma, dan bakteri. Susu UHT dalam kemasan aseptic dapat bertahan dalam suhu ruang selama 10 bulan tanpa bahan pengawet.
ASPEK GIZI
Pada prinsipnya, pengolahan pangan dilakukan oleh manusia dengan berbagai tujuan diantaranya adalah untuk:
1. Meningkatkan daya cerna makanan
2. Meningkatkan umur simpan pangan
3. Menyesuaikan rasa dan tekstur dengan selera manusia
Sayangnya, semakin banyak proses yang diaplikasikan pada makanan akan mengakibatkan semakin banyak pula kerusakan zat gizi yang dikandungnya. Oleh karena itu, industri pangan mengupayakan proses yang dapat mengakomodasi tujuan-tujuan yang diinginkan manusia dengan resiko kerusakan zat gizi seminimal mungkin.
Pasteurisasi susu, baik secara konvensional dengan metoda batching maupun metoda kontinyu dapat membunuh bakteri patogen (bakteri jahat), tetapi tidak membunuh bakteri-bakteri lain yang non patogen. Tetapi kelemahannya adalah umur simpannya tidak terlalu panjang dan harus disimpan dalam pendingin meskipun telah dikemas. Kelemahan lainnya adalah adanya reaksi Mallard yaitu pencoklatan sebagai akibat reaksi gula dan protein karena proses pemanasannya relatif lama.
Susu Kental Manis, termasuk produk susu yang kandungan gizinya banyak rusak karena proses pemanasan, evaporasi, dan penambahan gula. Karena penambahan gula dalam jumlah besar dapat mengakibatkan resiko kegemukan dan nilai gizi SKM yang rendah dibandingkan bentuk lainnya maka SKM sekarang ini sudah bergeser fungsinya. Kalau dulu, SKM ini merupakan susu yang dikonsumsi dengan cara diminum, sekarang ini lebih banyak digunakan dalam produk-produk pangan olahan seperti martabak, puding, roti, dan lain-lain.
Dalam pembuatan susu bubuk, proses pemanasan yang berulang dan waktu yang lama sudah pasti mengakibatkan rusaknya zat gizi dalam jumlah lebih besar dibandingkan proses lainnya. Protein saja berkurang sampai dengan 30%-nya, bagaimana zat gizi lain yang lebih sensitif terhadap panas?
Untuk mengganti kehilangan dan kerusakan zat-zat gizi tersebut, produsen susu bubuk melakukan penambahan zat gizi (fortifikasi). Pada gilirannya penambahan zat gizi ini disadari dapat menjadi nilai jual produknya. Sehingga iklan-iklan susu saat ini banyak menonjolkan penambahan zat-zat gizi tersebut.
Sayangnya, penambahan za-zat gizi tersebut mengakibatkan tingginya harga susu bubuk. Mengapa? Karena untuk penambahan zat gizi kedalam makanan, diperlukan teknologi isolasi zat gizi dari bahan pangan aslinya, kemudian zat gizi ini harus dijaga stabilitasnya baik dalam keadaan murni, saat ditambahkan ke dalam susu bubuk, maupun saat susu bubuk tersebut direkonstitusi (penambahan dan pencampuran air agar dapat diminum selayaknya susu segar).
Lagi pula, zat-zat gizi yang diklaim oleh produsen telah ditambahkan ke dalam susu (AA, DHA, Triphtopan, Omega -3, dan lain-lain), sebenarnya telah tersedia dalam jumlah besar dalam makanan yang kita konsumsi. Tidak perlu proses isolasi dan stabilisasi yang mahal.
Salah satu zat gizi yang ”dijual” produsen susu bubuk adalah DHA (merupakan salah satu bentuk Omega 3). DHA dapat kita temukan dalam ikan tuna, ikan kembung, ikan tenggiri, ikan sardin/lemuru, ikan salmon, dan ikan –ikan lain yang hidup di laut dalam. Dan tentunya, sekilo ikan tuna seharga Rp.20.000,- jauh lebih murah dibandingkan sekaleng susu bubuk yang difortifikasi dengan DHA.
Selain itu sekarang sedang marak iklan tentang prebiotik. Produsen memang pintar membuat konsumen yang tidak tahu istilah-istilah tersebut menjadi merasa harus memberikan kepada anak-anak mereka. Padahal prebiotik adalah salah satu bentuk karbohidrat rantai sedang yang tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan sehingga dapat menjadi media tumbuh bifidobacterium. Nama-nama keren prebiotik adalah inulin, FOS, oligomanosa, oligogalactosa. Tapi sebenarnya prebiotik itu ada dalam bawang merah, bawang putih, kacang kedelai, asparagus, dan lain-lain.
Sampai saat ini (telah berlangsung selama 50 tahun), teknologi UHT merupakan proses yang dianggap paling dapat memenuhi tujuan pengawetan pangan dan meminimalisir hilangnya zat gizi.
Kamis, 30 September 2010
Pengawetan Dan Bahan Kimia
Secara garis besar pengawetan dapat dibagi dalam 3 golongan yaitu :
1) Cara alami
2) Cara biologis
3) Cara kimiawi
1) PENGAWETAN SECARA ALAMI
Proses pengawetan secara alami meliputi pemanasan dan pendinginan.
2) PENGAWETAN SECARA BIOLOGIS
Proses pengawetan secara biologis misalnya dengan peragian (fermentasi).
Peragian (Fermentasi)
Merupakan proses perubahan karbohidrat menjadi alkohol. Zat-zat yang
bekerja pada proses ini ialah enzim yang dibuat oleh sel-sel ragi. Lamanya
proses peragian tergantung dari bahan yang akan diragikan.
Enzim
Enzim adalah suatu katalisator biologis yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan
dapat membantu mempercepat bermacam-macam reaksi biokimia.
Enzim yang terdapat dalam makanan dapat berasal dari bahan mentahnya atau
mikroorganisme yang terdapat pada makanan tersebut. Bahan makanan seperti
daging, ikan susu, buah-buahan dan biji-bijian mengandung enzim tertentu
secara normal ikut aktif bekerja di dalam bahan tersebut. Enzim dapat
menyebabkan perubahan dalam bahan pangan. Perubahan itu dapat
menguntungkan ini dapat dikembangkan semaksimal mungkin, tetapi yang
merugikan harus dicegah. Perubahan yang terjadi dapat berupa rasa, warna,
bentuk, kalori, dan sifat-sifat lainnya.
Beberapa enzim yang penting dalam pengolahan daging adalah bromelin dari
nenas dan papain dari getah buah atau daun pepaya.
Enzim Bromalin
Didapat dari buah nenas, digunakan untuk mengempukkan daging. Aktifitasnya
dipengaruhi oleh kematangan buah, konsentrasi pemakaian, dan waktu penggunaan. Untuk memperoleh hasil yang maksimum sebaiknya digunakan
buah yang muda. Semakin banyak nenas yang digunakan, semakin cepat
proses bekerjanya.
Enzim Papain
Berupa getah pepaya, disadap dari buahnya yang berumur 2,5~3 bulan. Dapat
digunakan untuk mengepukan daging, bahan penjernih pada industri minuman
bir, industri tekstil, industri penyamakan kulit, industri pharmasi dan alat-alat
kecantikan (kosmetik) dan lain-lain.
Enzim papain biasa diperdagangkan dalam bentuk serbuk putih kekuningan,
halus, dan kadar airnya 8%. Enzim ini harus disimpan dibawah suhu 60o C.
Pada 1 (satu) buah pepaya dapat dilakukan 5 kali sadapan. Tiap sadapan
menghasilkan + 20 gram getah. Getah dapat diambil setiap 4 hari dengan jalan
menggoreskan buah tersebut dengan pisau.
3) PENGAWETAN SECARA KIMIA
Menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gula pasir, garam dapur, nitrat, nitrit,
natrium benzoat, asam propionat, asam sitrat, garam sulfat, dan lain-lian.
Proses pengasapan juga termasuk cara kimia sebab bahan-bahan kimia dalam
asap dimasukkan ke dalam makanan yang diawetkan. Apabila jumlah
pemakainannya tepat, pengawetan dengan bahan-bahan kimia dalam makanan
sangat praktis karena dapat menghambat berkembangbiaknya mikroorganisme
seperti jamur atau kapang, bakteri, dan ragi.
a) Asam propionat (natrium propionat atau kalsium propionat)
Sering digunakan untuk mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Untuk
bahan tepung terigu, dosis maksimum yang digunakan adalah 0,32 % atau
3,2 gram/kg bahan; sedngkan untuk bahan dari keju, dosis maksimum
sebesar 0,3 % atau 3 gram/kg bahan.
b) Asam Sitrat (citric acid)
Merupakan senyawa intermedier dari asam organik yang berbentuk kristal
atau serbuk putih. Asam sitrat ini maudah larut dalam air, spriritus, dan
ethanol, tidak berbau, rasanya sangat asam, serta jika dipanaskan akan
meleleh kemudian terurai yang selanjutnya terbakar sampai menjadi arang.
Asam sitrat juga terdapat dalam sari buah-buahan seperti nenas, jeruk,
lemon, markisa. Asam ini dipakai untuk meningkatkan rasa asam (mengatur
tingkat keasaman) pada berbagai pengolahan minum, produk air susu, selai, jeli, dan lain-lain. Asam sitrat berfungsi sebagai pengawet pada keju dan
sirup, digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula
(termasuk fondant), dan juga untuk mencegah pemucatan berbagai
makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan. Larutan asam sitrat yang
encer dapat digunakan untuk mencegah pembentukan bintik-bintik hitam
pada udang. Penggunaan maksimum dalam minuman adalah sebesar 3
gram/liter sari buah.
c) Benzoat (acidum benzoicum atau flores benzoes atau benzoic acid)
Benzoat biasa diperdagangkan adalah garam natrium benzoat, dengan ciriciri
berbentuk serbuk atau kristal putih, halus, sedikit berbau, berasa payau,
dan pada pemanasan yang tinggi akan meleleh lalu terbakar
d) Bleng
Merupakan larutan garam fosfat, berbentuk kristal, dan berwarna kekuningkuningan.
Bleng banyak mengandung unsur boron dan beberapa mineral
lainnya. Penambahan bleng selain sebagai pengawet pada pengolahan
bahan pangan terutama kerupuk, juga untuk mengembangkan dan
mengenyalkan bahan, serta memberi aroma dan rasa yang khas.
Penggunaannya sebagai pengawet maksimal sebanyak 20 gram per 25 kg
bahan. Bleng dapat dicampur langsung dalam adonan setelah dilarutkan
dalam air atau diendapkan terlebih dahulu kemudian cairannya dicampurkan
dalam adonan.
e) Garam dapur (natrium klorida)
Garam dapur dalam keadaan murni tidak berwarna, tetapi kadang-kadang
berwarna kuning kecoklatan yang berasal dari kotoran-kotoran yang ada
didalamnya. Air laut mengandung + 3 % garam dapur.
Garam dapur sebagai penghambat pertumbuhan mikroba, sering digunakan
untuk mengawetkan ikan dan juga bahan-bahan lain. Pengunaannya sebagai
pengawet minimal sebanyak 20 % atau 2 ons/kg bahan.
f) Garam sulfat
Digunakan dalam makanan untuk mencegah timbulnya ragi, bakteri dan
warna kecoklatan pada waktu pemasakan.
g) Gula pasir
Digunakan sebagai pengawet dan lebih efektif bila dipakai dengan tujuan
menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai bahan pengawet, pengunaan
gula pasir minimal 3% atau 30 gram/kg bahan. h) Kaporit (Calsium hypochlorit atau hypochloris calsiucus atau chlor kalk
atau kapur klor)
Merupakan campuran dari calsium hypochlorit, -chlorida da -oksida, berupa
serbuk putih yang sering menggumpal hingga membentuk butiran. Biasanya
mengandung 25~70 % chlor aktif dan baunya sangat khas.
Kaporit yang mengandung klor ini digunakan untuk mensterilkan air minum
dan kolam renang, serta mencuci ikan.
i) Natrium Metabisulfit
Natrium metabisulfit yang diperdagangkan berbentuk kristal. Pemakaiannya
dalam pengolahan bahan pangan bertujuan untuk mencegah proses
pencoklatan pada buah sebelum diolah, menghilangkan bau dan rasa getir
terutama pada ubi kayu serta untuk mempertahankan warna agar tetap
menarik.
Natrium metabisulfit dapat dilarutkan bersama-sama bahan atau diasapkan.
Prinsip pengasapan tersebut adalah mengalirkan gas SO2 ke dalam bahan
sebelum pengeringan. Pengasapan dilakukan selama + 15 menit. Maksimum
penggunaannya sebanyak 2 gram/kg bahan. Natrium metabisulfit yang
berlebihan akan hilang sewaktu pengeringan.
j) Nitrit dan Nitrat
Terdapat dalam bentuk garam kalium dan natrium nitrit. Natrium nitrit
berbentuk butiran berwarna putih, sedangkan kalium nitrit berwarna putih
atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air.
Nitrit dan nitrat dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan
ikan dalam waktu yang singkat. Sering digunakan pada danging yang telah
dilayukan untuk mempertahankan warna merah daging.
Jumlah nitrit yang ditambahkan biasanya 0,1 % atau 1 gram/kg bahan yang
diawetkan. Untuk nitrat 0,2 % atau 2 gram/kg bahan. Apabila lebih dari
jumlah tersebut akan menyebabkan keracunan, oleh sebab itu pemakaian
nitrit dan nitrat diatur dalam undang-undang. Untuk mengatasi keracunan
tersebut maka pemakaian nitrit biasanya dicampur dengan nitrat dalam
jumlah yang sama. Nitrat tersebut akan diubah menjadi nitrit sedikit demi
sedikit sehingga jumlah nitrit di dalam daging tidak berlebihan.
k) Sendawa
Merupakan senyawa organik yang berbentuk kristal putih atau tak berwarna,
rasanya asin dan sejuk. Sendawa mudah larut dalamair dan meleleh pada
suhu 377oC. Ada tiga bentuk sendawa, yaitu kalium nitrat, kalsium nitrat dan natrium nitrat. Sendawa dapat dibuat dengan mereaksikan kalium khlorida
dengan asam nitrat atau natrium nitrat. Dalamindustri biasa digunakan untuk
membuat korek api, bahan peledak, pupuk, dan juga untuk pengawet abahn
pangan. Penggunaannya maksimum sebanyak 0,1 % atau 1 gram/kg bahan.
l) Zat Pewarna
Zat pewarna ditambahkan ke dalam bahan makanan seperti daging,
sayuran, buah-buahan dan lain-lainnya untuk menarik selera dankeinginan
konsumen. Bahan pewarna alam yang sering digunakan adalah kunyit,
karamel dan pandan. Dibandingkan dengan pewarna alami, maka bahan
pewarna sintetis mempunyai banyak kelebihan dalam hal keanekaragaman
warnanya, baik keseragaman maupun kestabilan, serta penyimpanannya
lebih mudah dan tahan lama. Misalnya carbon black yang sering digunakan
untuk memberikan warna hitam, titanium oksida untuk memutihkan, dan lainlain.
Bahan pewarna alami warnanya jarang yang sesuai dengan yang
dinginkan.
4. PROSES BEBAS KUMAN
Ada dua cara proses bebas kuman, yaitu sterilisasi dan pasteurisasi
Sterilisasi
Adalah proses bebas kuman, virus, spora dan jamur. Keadaan steril ini dapat
dicapai dengan cara alami maupun kimiawi.
Secara alami dapat dilakukan dengan:
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 100oC selama 15
menit, untuk mematikan kuman dan virus;
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 120 oC selama 15
menit untuk mematikan spora dan jamur.
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan antiseptik dan
desinfektan.
a. Antiseptik
Merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan
jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Ada
beberapa bahan yang sering digunakan sebagai antiseptik, antara lain:
1. Alkohol, efektif digunakan dengan kepekatan 50~70 %;untuk memecah
protein yang ada dalam kuman penyakit sehingga pertumbuhannya
terhambat.
2. Asam dan alkali, penggunaannya sama dengan alkohol.
3. Air raksa (hidrargirum=Hg), arsenikum (As) dan Argentum (Ag), yang
bekerja melalui sistem enzim pada kuman penyakit.
4. Pengoksida, juga bekerja pada sistem enzim kuman penyakit. Terdiri dari
iodium untuk desinfektan kulit dan chlor untuk desinfektan air minum.
5. Zat warna, terutama analin dan akridin yang dipakai untuk mewarnai
kuman penyakit sehingga mudah untuk menemukan jaringan mana dari
kuman tersebut yang akan dihambat pertumbuhannya.
6. Pengalkil, yang digunakan untuk memecah protein kuman sehingga
aktifitasnya terhambat. Contohnya adalah formaldehid.
b. Desinfektan
Merupakan bahan kimia yang digunakan untukmencegah terjadinya infeksi
atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh
kuman penyakit lainnya. Jenis desinfektan yang biasa digunakan adalah
chlor atau formaldehid. Jenis ini lebih efektif bila dicampur dengan air
terutama dalampembuatan es. Untuk menjaga kualitas ikan penggunaan
chlor sebanyak 0,05 % atau 0,5 gram/liter air sangat efektif
Pasteurisasi
Dilakukan dengan memanaskan tempat yang telah diisi makanan atau
minuman dalam air mendidih pada suhu sekurang-kurangnya 63o C selama 30
menit, kemudian segera diangkat dan didinginkan hingga suhu maksimum 10o
C. Dengan cara ini maka pertumbuhan bakteri dapat dihambat dengan cepat
tanpa mempengaruhi rasa makanan dan minuman.
1) Cara alami
2) Cara biologis
3) Cara kimiawi
1) PENGAWETAN SECARA ALAMI
Proses pengawetan secara alami meliputi pemanasan dan pendinginan.
2) PENGAWETAN SECARA BIOLOGIS
Proses pengawetan secara biologis misalnya dengan peragian (fermentasi).
Peragian (Fermentasi)
Merupakan proses perubahan karbohidrat menjadi alkohol. Zat-zat yang
bekerja pada proses ini ialah enzim yang dibuat oleh sel-sel ragi. Lamanya
proses peragian tergantung dari bahan yang akan diragikan.
Enzim
Enzim adalah suatu katalisator biologis yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan
dapat membantu mempercepat bermacam-macam reaksi biokimia.
Enzim yang terdapat dalam makanan dapat berasal dari bahan mentahnya atau
mikroorganisme yang terdapat pada makanan tersebut. Bahan makanan seperti
daging, ikan susu, buah-buahan dan biji-bijian mengandung enzim tertentu
secara normal ikut aktif bekerja di dalam bahan tersebut. Enzim dapat
menyebabkan perubahan dalam bahan pangan. Perubahan itu dapat
menguntungkan ini dapat dikembangkan semaksimal mungkin, tetapi yang
merugikan harus dicegah. Perubahan yang terjadi dapat berupa rasa, warna,
bentuk, kalori, dan sifat-sifat lainnya.
Beberapa enzim yang penting dalam pengolahan daging adalah bromelin dari
nenas dan papain dari getah buah atau daun pepaya.
Enzim Bromalin
Didapat dari buah nenas, digunakan untuk mengempukkan daging. Aktifitasnya
dipengaruhi oleh kematangan buah, konsentrasi pemakaian, dan waktu penggunaan. Untuk memperoleh hasil yang maksimum sebaiknya digunakan
buah yang muda. Semakin banyak nenas yang digunakan, semakin cepat
proses bekerjanya.
Enzim Papain
Berupa getah pepaya, disadap dari buahnya yang berumur 2,5~3 bulan. Dapat
digunakan untuk mengepukan daging, bahan penjernih pada industri minuman
bir, industri tekstil, industri penyamakan kulit, industri pharmasi dan alat-alat
kecantikan (kosmetik) dan lain-lain.
Enzim papain biasa diperdagangkan dalam bentuk serbuk putih kekuningan,
halus, dan kadar airnya 8%. Enzim ini harus disimpan dibawah suhu 60o C.
Pada 1 (satu) buah pepaya dapat dilakukan 5 kali sadapan. Tiap sadapan
menghasilkan + 20 gram getah. Getah dapat diambil setiap 4 hari dengan jalan
menggoreskan buah tersebut dengan pisau.
3) PENGAWETAN SECARA KIMIA
Menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gula pasir, garam dapur, nitrat, nitrit,
natrium benzoat, asam propionat, asam sitrat, garam sulfat, dan lain-lian.
Proses pengasapan juga termasuk cara kimia sebab bahan-bahan kimia dalam
asap dimasukkan ke dalam makanan yang diawetkan. Apabila jumlah
pemakainannya tepat, pengawetan dengan bahan-bahan kimia dalam makanan
sangat praktis karena dapat menghambat berkembangbiaknya mikroorganisme
seperti jamur atau kapang, bakteri, dan ragi.
a) Asam propionat (natrium propionat atau kalsium propionat)
Sering digunakan untuk mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Untuk
bahan tepung terigu, dosis maksimum yang digunakan adalah 0,32 % atau
3,2 gram/kg bahan; sedngkan untuk bahan dari keju, dosis maksimum
sebesar 0,3 % atau 3 gram/kg bahan.
b) Asam Sitrat (citric acid)
Merupakan senyawa intermedier dari asam organik yang berbentuk kristal
atau serbuk putih. Asam sitrat ini maudah larut dalam air, spriritus, dan
ethanol, tidak berbau, rasanya sangat asam, serta jika dipanaskan akan
meleleh kemudian terurai yang selanjutnya terbakar sampai menjadi arang.
Asam sitrat juga terdapat dalam sari buah-buahan seperti nenas, jeruk,
lemon, markisa. Asam ini dipakai untuk meningkatkan rasa asam (mengatur
tingkat keasaman) pada berbagai pengolahan minum, produk air susu, selai, jeli, dan lain-lain. Asam sitrat berfungsi sebagai pengawet pada keju dan
sirup, digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula
(termasuk fondant), dan juga untuk mencegah pemucatan berbagai
makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan. Larutan asam sitrat yang
encer dapat digunakan untuk mencegah pembentukan bintik-bintik hitam
pada udang. Penggunaan maksimum dalam minuman adalah sebesar 3
gram/liter sari buah.
c) Benzoat (acidum benzoicum atau flores benzoes atau benzoic acid)
Benzoat biasa diperdagangkan adalah garam natrium benzoat, dengan ciriciri
berbentuk serbuk atau kristal putih, halus, sedikit berbau, berasa payau,
dan pada pemanasan yang tinggi akan meleleh lalu terbakar
d) Bleng
Merupakan larutan garam fosfat, berbentuk kristal, dan berwarna kekuningkuningan.
Bleng banyak mengandung unsur boron dan beberapa mineral
lainnya. Penambahan bleng selain sebagai pengawet pada pengolahan
bahan pangan terutama kerupuk, juga untuk mengembangkan dan
mengenyalkan bahan, serta memberi aroma dan rasa yang khas.
Penggunaannya sebagai pengawet maksimal sebanyak 20 gram per 25 kg
bahan. Bleng dapat dicampur langsung dalam adonan setelah dilarutkan
dalam air atau diendapkan terlebih dahulu kemudian cairannya dicampurkan
dalam adonan.
e) Garam dapur (natrium klorida)
Garam dapur dalam keadaan murni tidak berwarna, tetapi kadang-kadang
berwarna kuning kecoklatan yang berasal dari kotoran-kotoran yang ada
didalamnya. Air laut mengandung + 3 % garam dapur.
Garam dapur sebagai penghambat pertumbuhan mikroba, sering digunakan
untuk mengawetkan ikan dan juga bahan-bahan lain. Pengunaannya sebagai
pengawet minimal sebanyak 20 % atau 2 ons/kg bahan.
f) Garam sulfat
Digunakan dalam makanan untuk mencegah timbulnya ragi, bakteri dan
warna kecoklatan pada waktu pemasakan.
g) Gula pasir
Digunakan sebagai pengawet dan lebih efektif bila dipakai dengan tujuan
menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagai bahan pengawet, pengunaan
gula pasir minimal 3% atau 30 gram/kg bahan. h) Kaporit (Calsium hypochlorit atau hypochloris calsiucus atau chlor kalk
atau kapur klor)
Merupakan campuran dari calsium hypochlorit, -chlorida da -oksida, berupa
serbuk putih yang sering menggumpal hingga membentuk butiran. Biasanya
mengandung 25~70 % chlor aktif dan baunya sangat khas.
Kaporit yang mengandung klor ini digunakan untuk mensterilkan air minum
dan kolam renang, serta mencuci ikan.
i) Natrium Metabisulfit
Natrium metabisulfit yang diperdagangkan berbentuk kristal. Pemakaiannya
dalam pengolahan bahan pangan bertujuan untuk mencegah proses
pencoklatan pada buah sebelum diolah, menghilangkan bau dan rasa getir
terutama pada ubi kayu serta untuk mempertahankan warna agar tetap
menarik.
Natrium metabisulfit dapat dilarutkan bersama-sama bahan atau diasapkan.
Prinsip pengasapan tersebut adalah mengalirkan gas SO2 ke dalam bahan
sebelum pengeringan. Pengasapan dilakukan selama + 15 menit. Maksimum
penggunaannya sebanyak 2 gram/kg bahan. Natrium metabisulfit yang
berlebihan akan hilang sewaktu pengeringan.
j) Nitrit dan Nitrat
Terdapat dalam bentuk garam kalium dan natrium nitrit. Natrium nitrit
berbentuk butiran berwarna putih, sedangkan kalium nitrit berwarna putih
atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air.
Nitrit dan nitrat dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan
ikan dalam waktu yang singkat. Sering digunakan pada danging yang telah
dilayukan untuk mempertahankan warna merah daging.
Jumlah nitrit yang ditambahkan biasanya 0,1 % atau 1 gram/kg bahan yang
diawetkan. Untuk nitrat 0,2 % atau 2 gram/kg bahan. Apabila lebih dari
jumlah tersebut akan menyebabkan keracunan, oleh sebab itu pemakaian
nitrit dan nitrat diatur dalam undang-undang. Untuk mengatasi keracunan
tersebut maka pemakaian nitrit biasanya dicampur dengan nitrat dalam
jumlah yang sama. Nitrat tersebut akan diubah menjadi nitrit sedikit demi
sedikit sehingga jumlah nitrit di dalam daging tidak berlebihan.
k) Sendawa
Merupakan senyawa organik yang berbentuk kristal putih atau tak berwarna,
rasanya asin dan sejuk. Sendawa mudah larut dalamair dan meleleh pada
suhu 377oC. Ada tiga bentuk sendawa, yaitu kalium nitrat, kalsium nitrat dan natrium nitrat. Sendawa dapat dibuat dengan mereaksikan kalium khlorida
dengan asam nitrat atau natrium nitrat. Dalamindustri biasa digunakan untuk
membuat korek api, bahan peledak, pupuk, dan juga untuk pengawet abahn
pangan. Penggunaannya maksimum sebanyak 0,1 % atau 1 gram/kg bahan.
l) Zat Pewarna
Zat pewarna ditambahkan ke dalam bahan makanan seperti daging,
sayuran, buah-buahan dan lain-lainnya untuk menarik selera dankeinginan
konsumen. Bahan pewarna alam yang sering digunakan adalah kunyit,
karamel dan pandan. Dibandingkan dengan pewarna alami, maka bahan
pewarna sintetis mempunyai banyak kelebihan dalam hal keanekaragaman
warnanya, baik keseragaman maupun kestabilan, serta penyimpanannya
lebih mudah dan tahan lama. Misalnya carbon black yang sering digunakan
untuk memberikan warna hitam, titanium oksida untuk memutihkan, dan lainlain.
Bahan pewarna alami warnanya jarang yang sesuai dengan yang
dinginkan.
4. PROSES BEBAS KUMAN
Ada dua cara proses bebas kuman, yaitu sterilisasi dan pasteurisasi
Sterilisasi
Adalah proses bebas kuman, virus, spora dan jamur. Keadaan steril ini dapat
dicapai dengan cara alami maupun kimiawi.
Secara alami dapat dilakukan dengan:
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 100oC selama 15
menit, untuk mematikan kuman dan virus;
- memanaskan alat-alat dalam air mendidih pada suhu 120 oC selama 15
menit untuk mematikan spora dan jamur.
Secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan antiseptik dan
desinfektan.
a. Antiseptik
Merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan
jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Ada
beberapa bahan yang sering digunakan sebagai antiseptik, antara lain:
1. Alkohol, efektif digunakan dengan kepekatan 50~70 %;untuk memecah
protein yang ada dalam kuman penyakit sehingga pertumbuhannya
terhambat.
2. Asam dan alkali, penggunaannya sama dengan alkohol.
3. Air raksa (hidrargirum=Hg), arsenikum (As) dan Argentum (Ag), yang
bekerja melalui sistem enzim pada kuman penyakit.
4. Pengoksida, juga bekerja pada sistem enzim kuman penyakit. Terdiri dari
iodium untuk desinfektan kulit dan chlor untuk desinfektan air minum.
5. Zat warna, terutama analin dan akridin yang dipakai untuk mewarnai
kuman penyakit sehingga mudah untuk menemukan jaringan mana dari
kuman tersebut yang akan dihambat pertumbuhannya.
6. Pengalkil, yang digunakan untuk memecah protein kuman sehingga
aktifitasnya terhambat. Contohnya adalah formaldehid.
b. Desinfektan
Merupakan bahan kimia yang digunakan untukmencegah terjadinya infeksi
atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh
kuman penyakit lainnya. Jenis desinfektan yang biasa digunakan adalah
chlor atau formaldehid. Jenis ini lebih efektif bila dicampur dengan air
terutama dalampembuatan es. Untuk menjaga kualitas ikan penggunaan
chlor sebanyak 0,05 % atau 0,5 gram/liter air sangat efektif
Pasteurisasi
Dilakukan dengan memanaskan tempat yang telah diisi makanan atau
minuman dalam air mendidih pada suhu sekurang-kurangnya 63o C selama 30
menit, kemudian segera diangkat dan didinginkan hingga suhu maksimum 10o
C. Dengan cara ini maka pertumbuhan bakteri dapat dihambat dengan cepat
tanpa mempengaruhi rasa makanan dan minuman.
Pangan Gizi
Apa saja kandungan beras ?
Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:
- amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang
- amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.
Macam-macam jenis pisang ?
1.Pisang serap (noe. Musa texstiles)
pisang serat adalah tanaman pisang yang tidak diambil buahnya tetapi diambil seratnya. Pada awal abad 16, pigatotta menerangkan bahwa penduduk asli daerah cebu, Filipina., memanfaatkan serat pisang manila ini untuk bahan pakaian. Karenanya pisang ini dinamakan musa tekstilis.
Batangnya merupakan batang semu yang terbentuk dari upih-upih daun yang saling menutupi. Tingginya mencapai 7m dengan daun berbentuk lanset warnanya hijau. Bunganya seperti pisang berbentuk buah jorongyang berkulit tebal, tetapi tidak dapat dimakan. Biiji buah hitam bulat kecil keras seperti biji randu. Pisang ini disebut juga pisang manila karena diduga berasal dari manila. Pengembangan juga kerap dilakukan di daerah ini antara lain di India, guantemala, Honduras. Di Indonesia juga dikembangkan tetapi kurang berhasil.
Berdasarkan iklimnya, tumbuhan ini adalah tumbuhan tropika yang menghendaki udara yang panas dan agak lembab. Tanaman ini biasanya tumbuh di dataran rendah samapai ketinggian 500 meter dari permukaan air laut. Tanah yang cocok adalah tanah lempung yang akan gembur dan kaya kandungan humus. Pisang ini mudah rebah oleh tiupan angina yang keras dan juga peka terhadap genangan air.
Cara memperbanyak tanaman ini bias dilakukan dengan biji, anakan, maupun akar tinggalnya, akan tetapi dalam upaya budidaya jarang digunakan biji untuk meperbanyaknya.
Tanaman ini siap dipanen bila kuncup bunga telah keluar. Artinya siap dipotong untuk diuambil seratnya. Serat yang diperoleh adalah serat yang kuat, tahan terhadap air (air tawar maupun air laut). Serat ini cocok dipakai sebagai tali dikapal laut, tali tambang, dan tali untuk kail. Juga bisa dipintal atau dibuat anyaman untuk ayunan, sandal dan lain-lain.
2. Pisang hias (heliconia indica lamek)
Pisang hias juga tidak diambil buahnya. Tumbuhan ini memang bagus sekali ditanam dimuka rumah sebagai hiasan. Pisang ini diperbanyak dengan mengggunakan anakanaya. Pisang hias dibagi 2 yaitu pisang kipas dan pisang-pisangan. Disebut pisang kipas karena bentuknya seperti kipas. Nama lain pisang kipas adalah pisang madagaskar (diduga berasaldari daerah madagaskar). Sedang pisang-pisangan bverbatang semu yang kecil-kecil dan tumbuh berumpun indah ditanam dimuka rumah karena bentuknya kecil.
3. Pisang buah (musa paradisiacal L.)
Pisang jenis ini sudah tidak asing lagi bagi kita karena banyak ditemui. Pisang buh dapat dibedakan menjadi 4 golongan. Golongan pertama adalah yang dapat dimakan langsung setelah masak, misalnya pisang kapok, pisang jus susu, pisang hijau, pisang emas, pisang raja, dan sebagainya.
Golongan kedua dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu, misalnya pisang tanduk, pisang oli, pisang kapas, pisang bangkahulu, dan sebagainya. Golongan ketiga adalah pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak maupun diolah dahulu, misalnya pisang kapok dan pisang raja. Sedangkan golongan keempat adalah pisangy ang dapat dimakan sewaktu masih mentah. Pisang ini adalah pisang kelutuk(pisang batu) biasanya pisang ini dibuat rujak sewaktu masih muda dan rasanya sepet.
4. Pisang ambon lumut
Pisang ambon lumut atau pisang ambon hijau tetap berwarna hijau, walaupun buahnya sudah matang. Kalau terlalu matang, kilitnya agak kekuningan dengan bercak-bercak cokelat. Per tandan terdiridari 7-12 sisir dengan berat 15-18 kg. Persisir piang berisi 20 buah. Buahnya lurus, panjang 15-17 cm, berdiameter 4,2 cm. Kulit buah agak tebal, daginga buah berwarna kuning agak putih, tidak berbiji. Rasanya manis, aromanya kuat. Berat per buah sekitar 80 gram.
5. Pisang ambon kuning
Pisang ambon kuning memiliki bentuk buah melengkung dengan pangkal buah bulat. Per tandan terdiri dari 6-9 sisir dengan berat 18-20 kg. Persisir berisi 15-20 buah. Panjang buah 15-17 cm, bobot 100 gram per buah. Daging buahnya putih kekuningan, tidak berbiji. Rasanya manis, pulen, dan harum.
6. Pisang nangka
Pisang nangka termasuk pisang olahan. Kulit buahnya tebal dan tetap hijau, walaupun sudah matang. Jika terlalu matang warna buah menjadi agak kekuningan. Daging buahnya kuning kemerahan. Rasanya manis masam dengan aroma harum. Pertandan terdapat 7-8 suisir dengan berat 12-14 kg. Dalam setiap sisir berisi 14 sampai 24 buah. Panjang buah sekitar 15 cm beratnya 120 gram.
7. Pisang tanduk
Pisang tanduk termasuk pisang olahan. Kulit buahnya tebal, berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam. Dalam satu tandan terdapat 1-2 sisir. Dengan berat 7-10 kg. setiap sisir terdiridari 10-15 buah. Panjang buah 206-28 cm diameter 4,6 cm. bentuk buah melengkung. Warna daging buah kuning muda atau putih kekuningan. Buah tidak berbiji. Buah dimakan setelah direbus, rasanya manis. Berat per buah 320 g.
8. pisang raja sereh
Pisang raja sereh atau pisang susu termasuk popular sebagai buah meja. Pertandang terdapat 5-6 sisir dengan berat 12-16 kg. persisir terdiridari 12-16 buah. Ukuran buahnya kecil-kecil, panjangnya sekitar 10-15 cm, berdiameter 3-4 cm. kulit buah pisang ini tipis, berwarna kuning kecoklatan dengan bintik-bintik cokelat kehitaman. Daging berwarna putih rasanya manis dengan aroma harumyang khas berat per buah 60 g.
Jenis Pisang Komersial
Pengertian komersial disini adalah banyak terdapat dipasaran, baik dipasar umum maupun supermarket, jenis-jenis pisang itu banyak digemari oleh masyarakat karena keistimewaaanya. Berikit uraian mengenai jenis-jenis pisang komersial.
1. Pisang barangan
Pisang barangan di Filipina dikenal dengan nama pisang lakatan dan dimalaysia disebut pisang berangan. Pisang jenis ini sangat popular sebagai pisang meja. Berat rata-rat pertandan berkisar 12-20 kg terdiri dari 8-12 sisir. Setiap sisirnya terdiri dari 12-20 buah. Ukuran buahnya 12-18 cm dengan diameter 3-4 cm warna kulit buahnya kuning kemerahan dengan bintik-bintik cokelat. Warna daging buahnya agak oren rasanya enak dan aromanya harum.
2. Pisang raja
Pisang jenis ini tangkai buahnya terdiri atas 6 sisir yang masing-masing terdiri 15 buah. Berat 1 buah pisang sekitar 92 g dengan panjang 12-18 cm dan diameter 3,2 cm. bentuk buahnya melengkung dengan bagian pangkal bulat. Warna daging buahnya kuning kemerahan tanpa biji. Empulur buahnya nyata dengan tekstul kasar. Rasanya manis lama tanaman berbunga sejak anakan adalah 14bulan. Sedangkan buah masak 164 hari sesudah muncul bunga.
3. Pisang raja sere
Pisang raja sere dikenal sebagai pisang meja ukuran buahnya kecil dengan panjang buah 10-15 cm dan diameter 3-4 cm berat pertandan 10-14 kg, jumlah sisir 5-9, dan tiap sisir terdiri 12-16 buah. Pada waktu matang warna kulitnya kunig kecoklatan dengan bintik-bintik cokelat kehitaman. Kulit buahnya tipis, warna daging buahnya putih, rasanya manis, dan aromanya harum.
4. Pisang raja uli
Pisang raja uli dikenal sebagai pisang olahan warna kulit buah kunig cerah dan daging buah putih. Buahnya berasa manis dan beraroma harum. Setiap tandannya terdiri dari 5-8 sisir buah dengan berat setiap sisir kurang lebih 1620 g. beratnya buah 120 g. panjang buah 18 cm, dan lingkar buah 13 c,. pisang ini sangat enak jika direbus atau digorang.
5. Pisang raja jambe
Setiap tandan dari pisang ini terdiri atas 13 sisir. Bentuk buah lurus berpangkal bulat dengan berat 80 g. panjang buah sekitar 7,8 cm, diameter 7,8 cm dan tebal kulit buah 0,2 cm. daging buah berwarna putih kekuningan tanpa biji. Umur tanaman hingga berbunga 17 bulan dan buahnya akan masak 5 bulan kemudian.
6. Pisang raja molo
Setiap tandan pisang yang panjangnya 43 cm ini terdapt 6 sisir buah. Setiap sisir terdapart 10-13 buah yang panjangnya 12 cm diameter 3,4 cm, dan berat 100 g. bentuk buah lurus tebal kulit buah 0,3 cm. daging buah berwarna kuning kewmerahan tanpa biji. Umur tanaman hingga berbunga 17 bulan dan buah akan masak 5 bulan kemudian.
7. Pisang raja kul
Setiap tandan dari pisang yang panjangnya 32 cm ini terdapat 16b sisir buah setiap sisir terdapat 15 buah. Bentuk buah lurus dengan panjangnya 8 cm, diameter 3,1cm, berat 40 g dan tebal kulit 0,3 cm. dagin buah berwarna kuning tanpa biji. Umur tanaman hingga berbunga 14 bulan. Dan buah akan masak 5 bulan kemudian.
8. Pisang raja tahun
Setiap tandanya yang 22.5 cm ini terdapat 4 sisir buah. Setiap sisir rata-rata terdapat 15 buah dengan panjang 11 cm, diameter 3,2 cm, berat 60 gr, dan tebal kulit buah 0.3 cm. bentuk buah lurus berpangkal membulat, daging buah berwarna kuning keputihan tanpa biji. Umur tanaman hingga berbunga 14 bulan dan buah akan masak 5 bulan kemudian.
9. Pisang raja bulu
Pisang raja bulu tergolong sebagai buah yang dapat digunakan sebagai buah meja dan buah olahan. Daging buahnya agk tebal, rasanya manis, aromanya kuat. Pada waktu matang wartna kulit kuning berbintik-bintik cokelat. Warna daging putih kemerahan. Berat setiap tandannya 7-10 kg. terdiri dari 6-7 sisir, dan setiap sisirnya 10-15 buah. Panjang buahnya 25-35 cm dan diameterny 6-6,5 cm. konon pisang raja bulu yang dikukus dan dimakan dengan madu dapat menguatkan jantung.
10. Pisang kapok
Pisang kapok di Filipina dikenal sebagai pisang saba, sedang di Malaysia dikenal dengan nama pisang nipah. Buahnya enak dimakan setelah diolah terlebih dahulu. Bentuk buahnya agak pipih sehingga kadang disebut pisang gepeng. Berat per tandan dapat mencapai 14-22 kg dengan jumlah sisir 10-16, setiap sisir terdiri dari 12-20 buah. Bila matang warna kulit buahnya kuning penuh.
Pisang kapok banyak jenisnya. Yang terkenal antara lain pisang kapok kuning. Pisang kapok putih warna dagingnya putih dan pisang kapok kuning warna dagingnya kuning.pisang kapok kuning mempunyai rasa yang lebih enak disbanding pisang kapok putih. Karenanya, pisang kapok jenis kuning lebih disukai.
Mengapa ikan lebih baik daripada daging ?
Ternyata daging ikan memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang berperan dalam melindungi jantung. Daging ikan ini mampu menurunkan kolesterol dalam darah, memperbaiki fungsi dinding pembuluh darah.menurunkan tekanan darah,mencegah terjadinya penggumpalan darah, dan sangat diperlukan untuk pembentukan otak.
Deretan manfaat ikan ini bagi jantung masih bertambah lagi seiring penelitian para ilmuwan. Salah satu yang terbaru adalah mencegah timbulnya fibrilasi atial ( FA), suatu jenis gangguan irama jantung yang sering terjadi pada orang tua. Bukti ini dimuat dalam jurnal Circulation- sebuah jurnal kesehatan terkemuka- pada tahun 2004. Semua kandungan positif itu tidak akan kita rasakan bila memilih ikan yang salah.
Bukan salah jenis, melainkan salah memilih ikan yang tidak segar atau salah dalam proses pengolahan. Para peneliti tidak menjelaskan jenis ikan yang memberikan khasiat terbaik. Namun, ikan salmon dipercaya mempunyai kandungan omega 3 yang cukup tinggi.Berbagai cara pengolahan sebenarnya baik untuk ikan.
Kawista/ java cola/ cola van java ?
Buah dengan nama latinnya (Limonia acidissima syn. Feronia limonia) adalah buah khas kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.
Kawis mempunya arom yang khas sering juga disebut Java Cola karena rasanya yang mirip cola, bentuknya seperti melon, tapi lebih kecil dan tempurungnya keras. Buah ini kalau sudah matang, diolah menjadi sirup dan limun (minuman bersoda). Bisa juga dimakan langsung dengan dicampur gula atau dibuat semacam es blewah. Daging buah yang matang dicampur dengan gula, dimakan seperti serbat (sherbet), beserta bijinya atau biji itu dibuangi, atau diolah menjadi semacam ‘treacle’.
Kawista berperawakan pohon kecil dan meluruhkan daun-daunnya, tingginya mencapai 12 m, bercabang banyak dan ramping-ramping, berduri tajam dan lurus, panjangnya sampai 4 cm. Daunnya majemuk berukuran panjang sampai 12 cm, bersirip ganjil dengan rakis dan tangkainya yang bersayap sempit; anak daunnya berhadapan, 2-3 pasang, anak daun ujung berbentuk bundar telur sungsang, panjangnya sampai 4 cm, memiliki kelenjar minyak, dan jika daun diremas mengeluarkan sedikit aroma. Bunga jantan dan bunga sempurnanya berbilangan lima, berwarna putih, hijau atau lembayung-kemerahan, biasanya bergerombol dalam perbungaan yang kendur, terletak di ujung ranting atau di ketiak daun. Buahnya bertipe buah buni, berkulit keras, berdiameter sampai 10 cm; permukaan kulitnya bersisik, terlepas-lepas, berwarna keputih-putihan; daging buahnya yang harum itu berisi banyak biji yang berlendir. Bijinya berukuran panjang 5-6 mm, berbulu, berkeping biji tebal dan berwarna hijau; perkecambahannya epigeal. Batang anakannya ramping, sedikit berbiku-biku (zigzag); 1-4 lembar daun pertama berbentuk daun tunggal. Pohon kawista memperlihatkan pola perkembangan yang sederhana, yaitu berdaun, berbunga, dan berbuah dalam tahun yang sama. Di Asia Tenggara, daun kawista gugur pada bulan Januari, pembungaan diawali pada bulan Februari atau Maret, dan berbuah matang pada bulan Oktober atau November. Pohonnya tumbuh lambat dan tidak akan menghasilkan buah sampai berumur 15 tahun atau lebih.
Kandungan Daging buah kawista kira-kira sepertiga dari keseluruhan buah. Kandungan pektin buah segarnya adalah 3-5%. Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mmgandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang -dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.
Di Sri Lanka, krim kawista merupakan hasil olahan dari daging buahnya. Di India juga buah kawista dimanfaatkan dengan cara yang bersamaan dengan kerabat dekatnya yaitu maja (Aegle marmelos (L.) Correa), tetapi tidak dapat menggantikan maja itu. Buah kawista yang matang memperlihatkan manfaat obat, untuk menurunkan panas, pengelat dan bersifat tonikum, dan digunakan sebagai obat sakit perut. Di Indo-Cina, duri dan kulit batang kawista dijumpai dalam berbagai ramuan obat tradisional untuk mengobati haid yang berlebihan, gangguan hati, gigitan dan sengatan binatang, dan untuk mengobati mual-mual. Kayu kawista digunakan untuk bangunan rumah, tiang dan perabotan pertanian. Getah yang dikumpulkan dari kulit kayunya dilaporkan memiliki manfaat obat, dan digunakan sebagai pengganti gom arab.
Jika anda ingin menanam Kawis, tanaman ini mampu hidup pada iklim tropik muson atau yang sewaktu-waktu kering. Tanaman ini dapat tumbuh sampai ketinggian 450 m dpl. dan toleran terhadap kekeringan dan dapat beradaptasi dengan baik pada tanah yang ringan.
Protein nabati VS Protein hewani ?
Masa pertumbuhan paling penting adalah masa awal kelahiran bayi. Satu-satunya sumber gizi saat itu adalah air susu ibu (ASI). Protein yang terkandung dalam ASI sekitar 5%. Jadi kenyataannya kebutuhan protein manusia di saat pertumbuhan yang terpenting dapat dipenuhi oleh masukan kalori protein sebanyak 5%. Sementara itu perusahaan multinasional yang menjual makanan berprotein tinggi dan mahal seperti daging, telur, dan susu sapi membuat Anda merasa membutuhkan protein lebih banyak dari yang seharusnya.
Meningkatkan 30% kebutuhan protein Anda sama dengan meningkatkan 30% penghasilan mereka. Tidak aneh jika dengan segala cara halal maupun tidak, mereka berusaha membuat Anda percaya bahwa Anda membutuhkan protein lebih banyak lagi.
Daging, telur, dan ikan merupakan jenis sumber protein yang ber-pH asam. Karena darah perlu dipertahankan dalam pH normal, maka masukan makanan bersifat asam akan dinetralkan oleh mineral basa. Mineral ini adalah kalsium yang akan diambil dari tulang. Jadi konsumsi protein hewani, apalagi dalam jumlah besar akan diikuti dengan pengurasan kalsium pada tulang yang mengakibatkan pengeroposan tulang.
Apa yang dimaksud revolusi hijau, revolusi biru, dan revolusi putih ?
Revolusi hijau merupakan usaha pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan. Mengubah dari pertanian tradisional menjadi pertanian yang menggunakan teknologi lebih maju. Adapun revolusi hijau di Indonesia dilakukan dengan Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pertanian. Ekstensifikasi dengan perluasan areal. Intensifikasi dilakukan melalui Panca Usaha Tani, yaitu : 1. Teknik pengolahan lahan pertanian 2. Pengaturan irigasi 3. Pemupukan 4. Pemberantasan hama 5. Penggunaan bibit unggul.
Revolusi biru muncul karena revolusi hijau yang dilakukan belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan pangan dan 70% bagian bumi kita adalah laut. Revolusi biru dilakukan dengan meningkatkan dan mempercanggih teknologi dalam mengambil hasil-hasil laut seperti pukat harimau.
Revolusi putih adalah gerakan membudayakan anak-anak untuk minum susu minimal satu gelas sehari. Gerakan ini didasari atas data anak-anak Indonesia yang hanya minum susu 6 liter per tahun atau satu tetes per hari. Gerakan ini bertujuan untuk menciptakan generasi muda bangsa yang cerdas yang dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain, serta memberdayakan peternak.
Langganan:
Komentar (Atom)